Jumat, 23 Agustus 2013

Jurnal Pendakian: Menerbitkan Asa di Gunung Slamet




Pendakian ke Gunung Slamet bukan hanya menantang nyali pendakinya, tetapi juga sebagai titik awal kerjasama dengan organisasi pecinta alam lainnya.Kenikmatan dalam lelahnya perjalanan pendakian terbayar lunas saat mencapai puncak.

Pada pendakian ini, Pasatwa yang diwakili oleh Adimas Lukminto dan Annisa Cantika berangkat satu rombongan dengan kelompok pecinta alam Pejaten (Palaten). Total pendaki dalam satu rombongan berjumlah tujuh orang. Kami berangkat pada 9 Mei 2013 menggunakan bis dari Pasar Minggu.

Gunung Slamet merupakan gunung tertinggi di Jawa Tengah dan tertinggi kedua di Pulau Jawa, setelah Gunung Semeru.Puncak Slametberada di ketinggian 3428 mdpl (meter di atas permukaan laut). Secara geografis, gunung ini berada di perbatasan Kabupaten Brebes, Banyumas, Purbalingga, Kabupaten Tegal, dan Kabupaten Pemalang, Provinsi Jawa Tengah. Dari bis yang mengantar kami ke Base Camp Bambangan, puncak gunung beserta gumpalan keluaran kawah-kawah Gunung Semeru sudah terlihat. Saat itu sekitar pukul 8.00 WIB dan jarak masih sekitar puluhan kilometer sebelum sampai Base Camp.Ciptaan vegetasi alami berupa hamparan ladang menjamu kami.

Ada tiga jalur pendakian Gunung Slamet, yaitu Jalur Utara via Gambuhan-Jurangmangu, Jalur Selatan via Baturraden-Gunung Malang, dan Jalur Timur via Bobotsari-Bambangan.Jalur Timur dipilih karena jaraknya yang relatif pendek dan merupakan jalur paling aman untuk pendakian, di antara jalur-jalur lainnya.Setelah Base Camp yang berada di 1.575 mdpl, pendakian dimulai dari Pos Pemuda pada pukul 11.00 WIB tanggal 10 Mei. Peralatan dan logistik sudah penuh di dalam tujuhtas carier yang telah digendong oleh para pendaki. Dengan bekal mental dan target sunrise di puncak, kami semangat memulai pendakian!

Terdapat 9 pos pendakian untuk tempat beristirahat maupun mendirikan tenda.Kesembilan pos itu adalah Pondok Gembirung(Pos I), Pondok Walang (Pos II), Pondok Cemara (Pos III), Pondok Samaranthu (Pos IV), Pondok Samyang Rangkah/Mata Air (Pos V), Samyang Jampang (Pos VI), Samyang Katebonan (Pos VII), Samyang Kendil (Pos VIII), dan Plawangan (Pos IX). Dari semua pos, tidak semua pos mempunyai bangunan, hanya Pos I, V, dan VII saja yang mempunyai bangunan untuk tempat berteduh.Selain itu pos tersebut hanya berupa dataran yang cukup luas untuk mendirikan tenda ataupun beristirahat.


Pos I: Pondok Gembirung

Perjalanan menuju Pos I cukup jauh, sekitar 2 jam dengan kecepatan biasa.Mulanya, kami berjalan melewati perkebunan warga berupa bawang dan sawi hijau.Vegetasi berupa semak-semak dan pohon pinus kemudian mendominasi jalur pendakian.Berikutnya, hutan tertutup seperti secara resmi menandai pendakian kami.Jalur yang dilalui pun mulai menyempit.Pukul 13.10 WIB, kami tiba di Pos I dan beristirahat sekitar 20 menit.


Pos II: Pondok Walang

Sekitar pukul 14.45 WIB kami baru sampai di Pos II. Pada Pos II tidak terdapat bangunan, akan tetapi hanya berupa lahan datar. Setelah beristirahat cukup, kami melanjutkan pendakian.


Pos III: Pondok Cemara

Perjalanan menuju Pos III memakan waktu kurang lebih 2 jam. Kami tiba di sana pukul 16.37 WIB. Di sini mental dan fisik tim sedang diuji. Memang, perjalanan pendakian di Gunung Slamet ini membutuhkan fisik dan mental yang tinggi. Karakteristik kemiringan trek dari gunung ini hampir seluruhnya 45 derajat.Sementara itu, lebar jalur rata-rata hanya setapak seperti selokan. Saat musim hujan, jalur itu terisi penuh oleh air dari puncak. 

Semakin ke atas, jalur yang dilalui semakin sempit.Dibutuhkan lebih banyak konsentrasi untuk menjaga keseimbangan badan kita yang membawa carrier.Jika terdapat pohon-pohon besar maupun kecil yang tumbang,kami harus melompat atau menunduk untuk melewatinya.Dengan carrier berbobot 40-70 liter, tentu hambatan ini tidak mudah.Mental yang kuat dan fisik yang prima sangat dibutuhkan.


Pos IV: Pondok Samarantu

Hari sudah semakin gelap.Stamina masing-masing pendaki pun sudah menurun.Menariknya dalam perjalanan ke Pos IV ini, kami menemui fauna berupa sekelompok lutung yang sedang berlompat-lompat di pohon-pohon.Sebelumnya juga banyak ditemukan burung dengan suara-suara yang khas.Tepat pukul 17.33 WIB kami tiba di Pos IV dan memutuskan untuk membuka tenda di sana. 

Dua tenda berkapasitas masing-masing empat orang cukup untuk melindungi kami.Dilanjutkan dengan memasak dan istirahat. Kami juga bertemu rombongan pendaki lain yang beristirahat di dekat tenda-tenda kami. Suasana menjadi cair dan hangat.Pukul 02.00 WIB, lima dari tujuh orang rombongan kami meneruskan pendakian ke puncak tanpa membawa carrier. Tujuan kami cukup ambisius: melihat sunrise di puncak Slamet!

Tanggal 9-10 Mei kali itu, banyak sekali pendaki yang nanjak. Di sepanjang perjalanan, kami selalu bertemu pendaki lain yang turun maupun naik. Pendaki ini berasal dari berbagai daerah, diantaranya Jakarta, Jogja, Banyumas, dan lain-lain.Sama seperti kami, mereka pun berasal dari rombongan yang berbeda-beda.Bahkan ada bule dari Jerman yang kami temui ketika hampir mencapai puncak.I love hiking in Indonesia! :)

Perjalanan ke Pos V dan pos-pos selanjutnya sudah tidak jauh lagi.Hanya sekitar 0,3-0,6 km. Pukul 04.00 pagi kami mulai mendaki dengan bekal seperlunya.


Pos V: Samyang Rangkah/Mata Air

Pukul 05.15 kami sampai di Pos V yang mempunyai sumber mata air.Ketika kami sampai di sana, hari masih gelap. Karena diestimasikan kami tidak akan mendapatkan sunrise di Puncak, maka perjalanan dihentikan sejenak untuk mendapatkan sunrise. Satu-persatu pendaki yang berteduh, keluar dari tendanya sambil membawakan beberapa penganan bahkan membuatkan kopi atau teh. Jamuan ini adalah kenikmatan lain sebagai pendaki. Lalu gurauan, tawa hangat, dan saling berbagi kontak pun meluncur.Diselingi dengan teh hangat asli dari Tegal, kami menyesap oksigen dalam-dalam.

Keadaan di Pos V ini berbeda dengan pos-pos sebelumnya.Di sini kami dapat melihat view lepas karena pohon-pohon di sini pendek-pendek.Untuk pertama kalinya dalam perjalanan kali ini kami dibayar dengan pemandangan yang luar biasa.Tampak biru gunung kembar (Sumbing-Sindoro) dan Gunung Merbabu di kejauhan.Berdiri gagah seperti menantang kami untuk menaklukkan puncaknya, bersambut indah dengan latar belakang jingga dari semburat matahari.Lambat laun, matahari tidak lagi mengintip.Kami harus sampai puncak sebelum pukul 10.00.Jika tidak, empat kawah Slamet bisa saja menghembukan gas-gas beracunnya yang justru menghambat kami turun gunung.


Pos VI, VII, VIII

Butuh waktu sekitar 30 menit ke setiap Pos ini (Pukul 06.30 di Pos VI, pukul  07.00 di Pos VII, dan pukul 07.30 di Pos VIII). Pos VII hanya berupa lahan sempit dan tidak bisa didirikan tenda, Pos VII lahannya juga tidak terlalu luas tapi terdapat bangunan di sana, Pos VIII juga sempit dan tidak dapat didirikan tenda. Area setelah pos VI juga sering disebut hutan mati karena pepohonan yang ada layaknya pohon mati -kering, tidak berdaun.Hal ini dikarenakan pernah terjadi kebakaran di sekitar kawasan tersebut.Hal itu terlihat dari bekas karbon yang masih jelas dan beberapa batang pohon yang masih putih.Banyak pohon pendek dengan tinggi sekitar 2-4 meter dan view-nya sudah sangat menakjubkan!


Pos IX: Plawangan

Pos IX merupakan batas vegetasi di Gunung Slamet.Setelahnya,tidak ada lagi tanaman setelah pos ini.Jaraknya dekat dengan Pos VIII sekitar 15 menit.Di sini sering ditemui tanaman Edelweis Jawa tapi bunganya belum mekar.Edelweis Jawa ini sempat punah akibat kebakaran hebat pada 1995.


Puncak Slamet 3428 mdpl

Inilah ujian terakhir kami!

 Setelah melewati batas vegetasi, yang ada hanyalah batuan yang mengantarkan kami menuju puncak Slamet 3428 mdpl.Kali ini, tantangannya sulit.Treknya berupa batuan-batuan tajam dan pasir. Kemiringan trek ini lebih curam dari sebelumnya. Perlu kehati-hatian ekstraagar tidak terpeleset.Nafas juga harus diatur, jangan terlalu terburu-buru naik karena akanmudah kehabisan nafas mengingat kadar oksigen yang semakin menipis serta angin dingin yang berhembus. Pelan-pelan tapi konstan. Tantangan lain juga diberikan oleh awan-awan putih yang sudah seperti berada di bawah kaki gunung. Pemandangan indah pemukiman warga diselingi vegetasi hijau membuat ingin duduk lama di antara batuan-batuan trek.Pesona ini memperlambat durasi menuju puncak.Dari Pos IX ke Puncak, kami membutuhkan waktu 45 menit.

Akhirnya, dengan segala jerih payah kami berhasilsampai di ketinggian 3428 mdpl. Puncak Slamet bener-bener keren! Slamet itu unik, badannya hutan tapi kepalanya batuan.Anginnya semilir sejuk. Di depan ada 2 kawah Slamet yang masih aktif. Di sekelilingnya banyak awan-awan yang mengalir terbawa angin.Panji Pasatwa akhirnya berkibar di Puncak Slamet!

Kata Dimas:
Kalo bisa dinaikin, gua bakal jadi sun goku J. Kalo liat ke belakang-ini yang paling keren, view nya manteb banget! Gua bisa ngeliat kota purbalingga dan sekitarnya dari atas dan gunung sumbing-sindoro dan merbabu dengan hiasan awan-awannya. Beuuh..manteb banget!
Dan yang ga kalah penting adalah panji Pasatwa bisa berkibar di Puncak Slamet 3428 mdpl! Gua sama Acan seneng banget bisa ngibarin panji Pasatwa di sanaJ.

Kata Nisa:
Woaaa! Gue sampai puncak! Puncak gunung tertinggi kedua di Pulau Jawa! Pemandangannya keren banget.Sepi, sejuk, hangat, tenang.Di puncak gini, Tuhan kerasa deket banget dan kehidupan modern sudah jauh ditinggalkan di bawah. Pas banget untuk kontemplasi!
Hai Pasatwa, gue dan Dimas udah sampai di Slamet. Tiga-ribu-empat-ratus-dua-puluh-delapan!


Setelah puas menikmati pemandangan di puncak, pukul 11.00 kami mulai turun dan sekitar pukul 13.30 berhasil kembali ke Pos IV.Kegiatan dilanjutkan dengan masak dan makan kemudian beres-beres untuk perjalanan pulang.

Pukul 15.10 WIB, kami mulai turun.Perjalanan turun gunung sebenarnya mudah jika tidak memakai sandal gunung. Sandal gunung justru mudah membuat terpeleset karena curamnya kemiringan trek. Perjalanan juga bertambah sulit karena gelap mulai turun sedangkan stamina sudah terkuras.Konsentrasi tinggi sangat dibutuhkan.Dengan hanya berbekal senter sebagai penerangan dan pikiran yang dipaksakan untuk tetap berpikir positif, kami meniti pelan-pelan dataran sabana antara Pos I dan Pos Pemuda.Kami sampai di Base Camp Bambangan pada pukul 19.30 WIB.

Kami tidak memaksakan untuk pulang tapi bermalam dulu di sana dan pulang keesokan harinya. Dengan naik bus, kami sampai kembali di Jakarta dari Sabtu 11 Mei.

Kerjasama adalah harapan untuk keberlangsungan organisasi, pun suatu langkah vital dalam meningkatkan frekuensi pendakian Pasatwa nantinya.Perencanaan pendakian dengan menjaring komunitas atau organisasi pendaki hingga perjalanan pendakiannya sendiri adalah tempat berjejaring.Mendaki bukan cuma perihal menantang mental dan fisik.Mendaki juga mampu menerbitkan asa, bahwa batas yang dibuat diri sendiri selama ini masih dilampaui. Apapun batasnya.





Bravo Pasatwa! Pasatwa 2013: Solid-Inklusif!
Oleh: Adimas Lukminto dan Annisa Cantika

Tidak ada komentar:

Posting Komentar